Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

#FEBRUARICEMAS (1)

BAGAIMANA SEHARUSNYA Semenjak kami terbangun Ada banyak tanya berayun Seperti warna lembayung Kami pun tersentak Banyak kepentingan mendesak Semua harus selesai sebelum beranjak Atau bisa saja kami berpangku Terdiam dan menggugu Tergerus hingga kelu Aku merasakan panasnya api biru Begitu pun dinginnya es membeku Tapi aku teringat sahabatku Dia mampu tegar setelah jatuhnya datang Dia sanggup berjuang walau lelah berkepanjangan Dan dia tak pernah ragu walau dicap pecundang Kutanyakan mengapa Kucari alasannya Kemudian aku mengetahuinya Buatnya hidup cuma sekali Tak seharusnya tak berarti Sebentar lagi mati Lalu cemaslah pada yang seharusnya Jika diri masih belum mengenalNya Terjemahkan kasih dan sayangNya Baginya cukup hanya karenaNya Jatuh bangun adalah biasa Karena kita hanya manusia

EDISI MENCAPAI BATAS

#1 Jika tak sampai pada waktuku Tak mengapa mungkin bukan saat ini Karena waktuku adalah milikNya Segala yang menjadi takdirku tak akan melewatkanku Mungkin ku sudah mencapai batas, tapi tak ada batas dalam pertolonganMu, Ya Rab. #2 Hai penghujung hari Jangan pernah menanyakan sudah sampai mana diriku Aku masih sama sedang meniti jalanku Sampai kutemukan ujung dan ku hampir menyerah Tapi dengan mengingatNya Aku kembali utuh Karena kuasaNya tak terbatas Namun aku sangat terbatas #3 Ada seorang anak manusia Baru memahami tentang kata-kata Selama ini hanya melakukan semuanya Tak risau apa dikata Hingga akhirnya batas menyapa Dia sampai pada titiknya Tak tau harus kemana Karena anggapan manusia penyebabnya Terlalu takut dan bimbang dirinya Tak ada yang tau dan mencarinya Buat apa? Dia bukan siapa-siapa Tapi bagi Tuhan, dia berharga

YANG PERGI

Yang Pergi Yang pulang sambil lalu Katanya akan datang kalau butuh Nyatanya fiktif dan menyisakan kelu Huh, seperti benalu Tapi setidaknya tahu Bahwa bukan saatnya mengugu Hingga membuat berpangku Relakan sudah tak perlu berjibaku Pergilah jauh Jangan kembali dengan pilu Atau percikan paku Tak usah lagi kau dan aku

YANG DATANG

Yang Datang Berantakan bertahta kata Berdua dalam suara Bersenandung nurani dalam murka Resiko seorang petulang Berpulang pada yang berpantang Mengulang hingga lama membujang Tak sepatutnya dilabuhkan Karena yang datang hanya rekaan Yang ditetapkan akan dipertemukan

YANG LALU

Yang Lalu Kemarin saat memakai yang masam Pernahkan diri kita merasa tak selera Setelah sekian lama bertahan Akankan Dia memilih menjadi yang tercerahkan Kalau bukan karenaNya Lantas bagaimana Sebuah berkah kesadaran Perlu dirawat dengan kesabaran Berbuat baik dengan terus berpegang padaNya Menghindari kemudharatan dan mempertimbangkan Tak usah payah lagi Sebab yang sehati akan Dia satukan nanti

ERAT

ERAT Berjarak beberapa kilometer antara rumahku dan sahabat baikku. Kami bertemu di sekolah menengah atas dan ternyata kami cocok; sama-sama gila (ups) maksudku memiliki impian gila yang sama. Perkenalkan, aku Ara. Seorang anak perempuan biasa aja yang hidup di kota sederhana. Pertemuanku dengan sahabatku, Arin membuatku sadar bahwa perlu perjuangan menjalani hidup ini. Setidaknya untuk merdeka bagi diri sendiri. Singkat kata, kami hari itu akan pergi ke perpustakaan kota. Melewati jalan besar yang sepanjang mata memandang tidak ramai, cukup lenggang dan menenangkan.  Sesampainya di lokasi tujuan kami duduk di gasebo sejenak dan melihat awan bergerak. Penyuka pelajaran geografi, sedang berproses hijrah dan memiliki impian gila yang sama ; mendirikan Sekolah Ibu di kota kami dan ingin menjadi ibu rumah tangga. Cukup gila karena di tempat tinggal kami sekolah tinggi adalah untuk bekerja. Terlebih kami akan kuliah dan merantau ke kota sebelah. Kami memandang langit sam...

SEBUAH KISAH

Sebuah Kisah Satu dua dan tiga Kembali seorang anak mengeja Tiga empat dan lima Kembali seorang anak bahagia Jikalau harus patah Tak mengapa jadi tak tentu arah Jikalah harus gelisah Tak mengapa jadi gundah gulana Tapi kembalilah segera Sebuah kisah harus ditemukan akhirnya Agar Sang Kuasa ridho pada kita Karena sebuah kisah akan diminta pertanggungjawabannya

SEBUAH CITA

Sebuah Cita Hai penantang kehidupan Tak elokkah kami berpatut angkara Menepis batas menyambut cakrawala Petakamu pernah membuat bersedih Membius kreasi dan hentikan langkah Tak mengapa, kami menikmati Kemarin dan sekarang berbeda Telah kami terobos dinding tinggi Walau sakitnya tak tertandingi Untuk sebuah asa yang masih menggantung Perlakukan kami selayaknya Tujuan kami bukan kefanaan belaka

SEBUAH NAMA

Sebuah Nama Kering dan selalu dahaga Lusuh dan selalu tak terlihat Pelik dan luka yang membiru Tak mampu diartikan seketika Tak lekat tapi samar dekat Tak berasa tapi beraroma Kadang tak bertepi Kadang tak berperi Jangan pernah hadir lagi Pergi! Aku memang memiliki rasa Tapi rasaku lebih besar untuk Tuhanku

SEBUAH MASA

Sebuah Masa Pergantian itu tak mengapa pelik Perlahan akan digantikan dengan yang lebih baik Penantian itu jadikanlah masa belajar Belajar agama dan ilmu lain yang masih fakir Pengharapan itu menjadi salah Kalau salah niat dan caranya Apa yang dicari Kalau yang dicari selalu ada disisi Apa yang dirisaukan Kalau ada ketenangan yang dekat Apa pembuktiannya Cinta dan ikhlas karena-Nya